Minggu, 11 Desember 2011

Masalah dalam Pembagian Zakat dan Shodaqoh Di Indonesia

Zakat merupakan suatu kewajiban yang diberikan kepada umat muslim. Para muslim yang mendapat kewajiban zakat (muzakki) diharuskan untuk menyisihkan sebagian pendapatannya untuk diberikan kepada orang-orang yang berhak menerima zakat (mustahiq). Zakat menyimpan segudang potensi dalam usaha meratakan kesenjangan umat. Zakat juga berpotensi untuk mengangkat derajat ekonomi para mustahiq sehingga menjadi muzakki dan terangkat kesejahteraan ekonominya. Tapi pelaksanaan zakat di Indonesia masih jauh dari kata berhasil karena masih menyimpan beragam masalah.
Zakat dari muzakki dikumpulkan oleh suatu badan amil zakat (BAZIS) dan bekerja sama dengan bank untuk menyimpannya. Setelah itu BAZIS mendistribusikan uang maupun barang yang telah dikumpulkan tersebut. Tetapi dalam pendistribusian ini kurang tepat sasaran karena tiap orang hanya menerima sekitar 20 rb rupiah sebagai hak mustahiq. Uang sekecil itu tidak mampu mengangkat derajat ekonomi mustahiq melainkan hanya memberi uang untuk konsumerisme. Pemecahan masalah ini adalah mengganti pendistribusian uang konsumsi tersebut dengan pendistribusian uang modal usaha bagi umat. Lebih baik memberi kail daripada memberi ikan. Maka dari itu, jumlah yang diberikan kepada mustahiq sejumlah 1-2 juta dengan perjanjian uang tersebut harus digunakan untuk usaha. Pemberian modal usaha ini disertai dengan pembekalan kewiraswastaan untuk mendukung keberhasilan prgram tersebut.
Masalah selanjutnya adalah kurangnya kesadaran masyarakat untuk menyisihkan uang titipan Allah bagi umat. Muslim yang kaya raya di Indonesia berlimpah ruah jumlahnya, tapi mengherankan mengapa kesenjangan sosial semakin lama semakin lebar. Apabila Zakat terlaksana semakin baik maka seharusnya kesenjangan semakin lama semakin kecil. Para muslim yang kaya raya sepertinya kurang memahami masalah zakat, terutama zakat mal, sehingga mereka tidak berzakat mal. Solusi dari permasalahan ini adalah lebih menggiatkan dakwah pada orang menengah ke atas, mempromsikan zakat melalui media-media yang ada, membuat konsultan zakat privat dan sebagainya. Diharapkan dengan program yang dilaksanakan ini para muslim yang kaya raya di Indonesia menyadari betapa pentingnya berzakat dan menyisihkan sebagian harta mereka.
Sementara itu, pelakasanaan shodaqoh di Indonesia juga memiliki berbagai macam kendala. Salah satu dari masalah tersebut adalah pendistribusian shodaqoh. Beberapa tahun lalu terdapat suatu kasus dimana ada orang yang mati dalam pembagian shodaqoh dari seorang hartawan. Dia mendistribusikan shodaqoh sendiri dan akhirnya menjadi keramaian dan antri yang panjang. Masyarakat sekitar tidak sabar untuk menerima shodaqoh sehingga saling injak-menginjak sehingga timbul korban jiwa dalam pendistribusian. Pendistribusian trsebut salah karena seharusnya shodaqoh disalurkan ke badan amil zakat dan shodaqoh (BAZIS) bukan dibagikan sendiri. BAZIS kemudian mendistribusikan melalui masjid-masjid sehingga konflik yang terjadi minimal.
Kesadaran masyarakat untuk menyisihkan uangnya dalam bentuk shodaqoh juga masih minim. Maka dari itu, dakwah mengenai pentingnya shodaqoh harus digalakkan kembali. Apabila masyarakat telah mengerti dan timbul kesadaran dari diri masing-masing, maka jumlah uang yang terkumpul seakin banyak dan  menjadi semakin berguna bagi masyarakat.
Sebagaimana yang telah dijabarkan diatas, zakat memiliki peranan penting dalam masyarakat. Pelaksanaan zakat di Indonesia masih kurang karena pembagian zakat yang kurang mengenai sasaran dan kesadaran masyarakat yang masih minim mengenai zakat. Selaiin itu, pelaksanaan shodaqoh juga mengalami berbagai hambatan. Masalah-masalah yang ada dalam pelaksanaan zakat dan shodaqoh merupakan tanggung jawab kita bersama pemerintah dan BAZIS. Apabila pelaksanaan zakat sudah berjalan dengan baik diharapkan kesejahteraan ekonomi umat dan kesenjangan ekonomi di Indonesia berkurang.

1 komentar:

  1. iya, sebenarnya kalau kita mau rutin berzakat dan zakat disampaikan kepada yg berhak secara sejujurnya, maka kita akan banyak menolong saudara kita.

    BalasHapus